Saat Dunia Berebut Energi, Indonesia Menemukan Jalur Baru dari Rusia

photo author
Admin, Ketik Pos
- Jumat, 17 April 2026 | 11:32 WIB
Saat Dunia Berebut Energi, Indonesia Menemukan Jalur Baru dari Rusia (dok)
Saat Dunia Berebut Energi, Indonesia Menemukan Jalur Baru dari Rusia (dok)

KetikPos.com, Jakarta – Ketika banyak negara diliputi kecemasan akibat ketidakpastian pasokan energi global, Indonesia justru bergerak senyap—membangun jalur baru untuk memastikan kebutuhan dalam negeri tetap aman. Dari Moskow, sebuah kabar datang: pasokan minyak mentah dari Rusia semakin mendekati kenyataan.

Langkah ini tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan hasil komunikasi tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang kemudian ditindaklanjuti secara teknis oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melalui pertemuannya dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev.

Pertemuan yang berlangsung di Moskow itu bukan sekadar diplomasi formal. Ia menjadi ruang negosiasi strategis di tengah situasi global yang kian kompetitif dalam memperebutkan sumber energi.

“Alhamdulillah, hasilnya cukup menggembirakan. Kita akan mendapatkan pasokan crude dari Rusia,” kata Bahlil, usai melaporkan hasil pertemuan tersebut di Istana Negara, Jakarta.

Energi di Tengah Ketegangan Global

Dalam beberapa waktu terakhir, dinamika geopolitik telah memberi tekanan besar pada rantai pasok energi dunia. Harga berfluktuasi, distribusi terganggu, dan negara-negara mulai mengamankan kepentingannya masing-masing.

Di tengah situasi itu, Indonesia memilih memperluas jejaring. Bukan bergantung pada satu sumber, melainkan membuka banyak pintu sekaligus.

Kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 1 juta barel minyak per hari membuat langkah ini bukan sekadar pilihan—melainkan keharusan.

Arahan dari Presiden pun jelas: pastikan pasokan aman, bukan hanya untuk hari ini, tetapi hingga akhir tahun.

“Dari sekarang sampai Desember, kebutuhan crude kita InsyaAllah sudah terkendali. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Bahlil.

Diplomasi yang Berhitung

Namun, membuka kerja sama bukan berarti tanpa perhitungan. Pemerintah tetap menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama, terutama dalam hal harga.

Indonesia, menurut Bahlil, tidak akan membeli minyak dengan harga di atas pasar. Bahkan, jika memungkinkan, pemerintah menargetkan harga yang lebih kompetitif.

“Kita ingin harga terbaik. Minimal sama dengan pasar, kalau bisa di bawah itu,” tegasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Admin

Tags

Rekomendasi

Terkini

Harga Minyak Melejit, APBN 2026 Terancam Jebol

Selasa, 31 Maret 2026 | 05:43 WIB
X