Tema besar ajang ini, “Mengawal Perjuangan, Mengapresiasi Dedikasi: Bersama Mewujudkan Indonesia Emas”, seolah menemukan relevansinya dalam perjalanan tersebut.
Antara Dedikasi dan Kolaborasi
Lebih dari 60 nama masuk dalam daftar nominasi tahun ini. Mereka datang dari berbagai latar—legislator, senator, hingga mitra kerja parlemen. Namun benang merahnya sama: kontribusi nyata.
Dalam konteks itu, penghargaan yang diterima Li Claudia tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam ekosistem yang lebih besar—ekosistem yang juga didukung oleh berbagai institusi seperti Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, GoTo, Hutama Karya, Perusahaan Listrik Negara, Taspen, hingga Indonesia Asahan Aluminium.
Kehadiran mereka mempertegas satu hal: pembangunan adalah kerja kolektif.
Penghargaan sebagai Titik Berangkat
Bagi Li Claudia, penghargaan ini bukan garis finis. Ia lebih menyerupai penanda di tengah perjalanan—pengingat bahwa masih ada banyak hal yang harus dilakukan.
Ia menyebut apresiasi ini sebagai pemacu untuk terus memperkuat sinergi lintas sektor, memperluas ruang kolaborasi, dan memastikan bahwa pembangunan tidak meninggalkan siapa pun.
Harapannya pun meluas: agar semakin banyak perempuan berani mengambil peran strategis, terutama di wilayah-wilayah yang kerap dianggap “pinggiran”, padahal justru berada di garis depan.
Dari Pinggiran yang Menjadi Pusat
Ada satu ironi dalam cara kita memandang perbatasan: ia sering disebut pinggiran, padahal di sanalah wajah Indonesia pertama kali terlihat oleh dunia.
Melalui kepemimpinan seperti yang ditunjukkan Li Claudia, narasi itu perlahan berubah. Perbatasan tidak lagi sekadar garis pembatas, tetapi menjadi ruang tumbuh—tempat lahirnya inovasi, kolaborasi, dan harapan.
Dan dari sanalah, cerita tentang Indonesia yang lebih besar sedang ditulis—pelan, tetapi pasti.